Minggu, 12 Agustus 2012

KELANGKAAN KEDELAI, PERMASALAHAN YANG SUDAH SERING DIPUTAR TAYANG

Sudah hampir sebulan lebih isu kelangkaan kedelai menjadi topic hangat dalam beberapa diskusi tentang permaslahan pertanian di negeri agraris ini. Hal ini disebabkan oleh kedelai yang bisa dianggap sebagai sumber bahan makanan favorit seperti tahu tempe menjadi sebuah barang langka yang harganya semakain melambung akhir-akhir ini. Dan masalah ini jugalah yang membuat para pengrajin tahu dan tempe banyak yang mogok produksi guna mensiasati kelangkaan dan kenaikan harga kedelai.
Kejadian ini mengingatkan kita akan empat tahun silam dimana kisah ini juga terputar. Saat itu kedelai juga mengalami kelangkaan, dan pemerintahpun bertindak hamper sama dari kondisi saat ini. Dimana pada saat ini demi mengantisipasi kelangkaan pemerintah menerapkan bea masuk impor sebesar 0%, dan pada saat 2008 tidak hanya menurunkan beban tariff bea masuk tetapi malah mensubsidi sebesar Rp. 1000 terhadap kedelai impor.
Bagai sebuah tayangan yang terus diputar tayang, kelangkaan kedelai lalu pun diredam pemerintah dengan sebuah janji manis akan mengembangkan kedelai dalam negeri bahkan bisa berswasembada, sampai akhirnya janji itu kembali muncul saat kisah ini terulang.
Tak ayal lagi, banyak suara yang menyoroti maslah ini. Seperti halnya perhimpunan sarjana pertanian Indonesia (PISPI) yang mengadakan konferensi pers demi memberikan solusi dari problematika kelangkaan kedelai. Acara yang diisi langsung oleh ketua umum PISPI Arif Satria, SP, MSc, PhD, wakil ketua umum Salman Dianda Anwar, SP, deklarator PISPI Yeka Hendra Fatika, SP dan Kamhar Lakumani SP yang yang didaulat  menjadi moderator acara tersebut. Hadir beberapa wartawan dari berbagai media dan beberapa organisasi kemahasiswaan pertanian diantaranya: Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI), Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (POPMASEPI), Fakultas pertanian UNTIRTA, Himpunan mahasiswa sosial ekonomi pertanian (HIMASEP) UNTIRTA dan Himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) Agribisnis UIN Jakarta.
Dalam konferensi pers tersebut, PISPI juga menyoroti hal-hal nonteknis seperti yang dikemukakan oleh ketua umum. Dimana beliau menyayangkan tidak adanya rencana pembangunan jangka panjang, yang ada hanyalah rencana pembangunan jangka menengah yang hanya lima tahun, itupun sesuai masa jabatan. Juga tidak harmonisnya rencana pembangunan pusat dan daerah. Lain halnya dengan wakil ketua umum yang sedikit menyinggung pers, dimana pers seharusnya bisa lebih protektif dalam mendukung buah local dan melawan impor buah.
Adapun pernyataan PISPI secara terperinci dalam konferensi pers tanggal 08 Agustus di ruang pers room, Nusantara III, Gedung DPR/MPR RI adalah sebagai berikut:

UMUM
·       Isu kelangkaan kedelai terjadi pada saat kinerja usahatani kedelai dunia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, baik dilihat dari pertumbuhan areal tanam, produksi dan produktivitasnya. 80% kedelai dunia dihasilkan Negara Amerika, Brazil, dan Argentina. Amerika sebagai sentra produksi terbesar dunia (35%). Argentina, Brazil, Canada, India, Italy, dan Paraguay merupakan Negara dengan share produksi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, sementara yang lainnya mengalami penurunan termasuk Amerika.
·       Selama periode 2005-2009 harga kedelai di Negara sentra mengalami peningkatan. Harga kedelai di Cina dan Indonesia relative lebih tinggi dibandingkan dengan Negara lainnya. Argentina dan Paraguay merupakan Negara dengan harga kedelai relative rendah.
·       Kedelai di Indonesia tersebar di Jawa Timur, Jateng, Jabar, Yogya, Sulsel, dan NTB. Dari kurun waktu tahun 1990-2010 kinerja usahatani kedelai Indonesia mengalami penurunan dari tahun ketahun, terutama penurunan areal tanam yang berimbas pada penurunan produksi. Harga rata-rata kedelai Indonesia selalu lebih tinggi dibandingkan dengan harga kedelai dunia, mendekati dua kali lipatnya.
·       Terjadi peningkatan konsumsi kedelai perkapita per tahun dari 8,13 Kg/kap/tahun pada 1998 menjadi 9,97 Kg/kap/tahun di 2012, yang disebabkan oleh : 1) meningkatnya jumlah dan jenis produk olahan kedelai; 2) meningkatnya kesadaran masyarakat tentang manfaat kedelai bagi kesehatan; 3) perubahan pola gaya hidup sebagai respon dari meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kedelai.
PERMASALAHAN
·       Harga kedelai mengalami peningkatan hingga Rp. 8000/Kg. peningkatan hamper mendekati 60% dari kondisi normal.
·       Produksi kedelai Indonesia makin menurun yang disebabkan oleh penurunan luas areal tanam dan stagnannya upaya peningkatan produktivitas.
·       Produktivitas rata-rata kedelai kita berkisar pada 0,5-1,3 ton/Ha, sementara potensinya masih bisa ditingkatkan menjadi 2-2,5 ton/Ha.
·       Luas areal panen 2012 diperkirakan sekitar 566.000 Ha. Debandingkan dengan tahun 1992, 1,8 juta Ha, maka terjadi penurunan areal panen selama 10 tahun sekitar 1,2 juta Ha.
·       Penurunan luas areal panen Indonesia terjadi ditengah-tengah meningkatnya luas areal panen kedelai dunia, terutama di Negara Argentina, Brazil, Kanada, India, Italy, dan Paraguay.
·       Penurunan luas areal panen menyebabkan produksi kedelai Indonesia mengalami penurunan. Factor penyebabnya adalah semakin meningkatnya kedelai impor dengan harga yang lebih murah. Sehingga petani tidak mempunyai insentif untuk menanam kedelai, dan akhirnya banyak petani yang beralih untuk menanam komoditi lain.
·       Saat ini produksi kedelai Indonesia diperkirakan sebanyak 857.000 ton (30% dari kebutuhan). Sementara target swasembada kedelai sekitar 2,7 juta ton. Dengan demikian diperlukan impor sekitar 1,85 juta ton/tahun.
·       Tahun 1990, impor kedelai sebanyak  531.000 ton, dan di tahun 2009 impor kedelai mencapai 1,3 juta ton (FAO)
·       Sebagai Negara importer terbesar bagi Indonesia (60%), saat ini Amerika mengalami kekeringan, yang berdampak terhadap supply impor berkurang. Implikasinya adalah harga kedelai mengalami peningkatan hingga ke level Rp. 8200/Kg.
·       Pemerintah gagal melakukan antisipasi terhadap kekeringan di Amerika. Mengingat stok kedelai tidak akan serta merta berkurang secara tiba-tiba. Terdapat dugaan kuat adanya kartel, mengingat jumlah importer kedelai dikuasai oleh 4 perusahaan, diantaranya PT. cargil Indonesia, PT. gerbang cahaya utama, PT. alam agri perkasa, PT. cita bhakti mulia. Kartel sangat mungkin dilakukan karena tidak adanya pengaturan tataniaga impor kedelai. Karena tidak diatur, mereka dapat dengan semena-mena mengatur ketersediaan dan harga kedelai.
·       Implikasi dari kenaikan harga kedelai ini mengakibnatkan harga tempe serta produk turunannya mengalami peningkatan.
·       Dengan demikian terdapat isu utama kedelai Indonesia saat ini adalah tentang harga dan tentang ketergantungan terhadap impor.

UPAYA YANG PERLU DILAKUKAN
·       Perbaikan pemberian insentif produksi. Selama harga dalam negeri lebih mahal dibandingkan luar negeri, impor akan terus terjadi. Peningkatan atau penghapusan bea masuk impor bukan alternative terbaik dalam mengendalikan impor kedelai. Agar harga produsen petani kedelai kita memiliki daya kompetisi dengan harga kedelai luar negeri, maka diperlukan adanya subsidi on farm. Subsidi on farm yang diusuklkan adalah pemberian benih unggul kedelai dan pupuk secara gratis serta bantuan biaya pengolahan lahan.
·       Pemanfaatan potensi lahan. Untuk tercapai target swasembada kedelai sebanyak 2,7 juta ton. Diperlukan peningkatan produksi sekitar 1,85juta ton. Dengan produktivitas rata-rata 1,2 ton/ ha (versi BPS), berarti Indonesia memerlukan peningkatan luas areal tanam sebanyak 1,54 juta Ha. Target swasembada tahun 2014 jelas akan sulit tercapai, mengingat penambahan 1,54 juta Ha bukan perkara mudah. Upaya peningkatan luas areal tanam sebanyak 1,54 juta Ha tergantung pada kemauan dan sikap politik pemerintah. Karena ini menyangkut anggaran. Tanpa adanya kemauan yang kuat dari pemerintah, ketergantungan impor sulit ditiadakan. Peningkatan areal tanam dilakukan dengan cara : 1) tumpang sari, 2) peningkatan intensitas tanam, biasanya petani memberakan lahan 1-3 bulan, waktu bera ini dapat digunakan untuk menanam kedelai, 3) penumbuhan areal tanam baru dengan memanfaatkan lahan-lahan eks tambang dan lahan terlantar.
·       Peningkatan produktivitas. Produktivitas kedelai masih berpotensi ditingkatkan. Produktivitas dapat ditingkatkan melalui (1) penggunaan benih unggul dan (2) perbaikan teknik budidaya. Peningkatan penggunaan benih unggul dapat dilakukan dengan cara menumbuhkan penangkar-penangkar benih kedelai berbasis komunitas (community based seed production) di pedesaan, sebab pengusaha benih/ swasta besar tidak akan tertarik pada produksi benih kedelai yang memberikan keuntungan kecil. Perbaikan teknik budidaya dilakukan dengan peningkatan kegiatan penyuluhan.
·       Pengembangan komoditi substitusi kedelai. Kedelai banyak digunakan terutama untuk industry tempe, tahu, kecap, dan susu kedelai. Kebutuhan kedelai dapat ditekan dengan pengembangan komoditi substitusi kedelai. Komoditi yang memiliki prospek yang cukup baik dalam mensubstitusi kedelai saat ini adalah kacang roro.

KESIMPULAN
·       Produksi kedelai di Indonesia pernah mencapai puncaknya pada tahun 1992 (1,87 juta ton). Selama 20 tahun, produksi kedelai mengalami penurunan hingga produksi tahun 2012 mencapai 857.000 ton (berkurang 53,5 persen)
·       Terdapat dua isu utama perkedelaian saat ini, yaitu pengendalian harga dan upaya melepaskan ketergantungan terhadap impor kedelai yang mencapai 1,8 juta ton.
·       Pengendalian harga oleh pemerintah tidak akan efektif mengingat cukup besarnya disparitas harga kedelai dalam negeri dan harga kedelai luar negeri.
·       Upaya untuk mencapai swasembada kedelai agar Indonesia tidak melakukan impor, dilakukan dengan cara (1) pemberian insentif produksi kepada petani, (2) pemanfaatan potensi lahan dan (3) peningkatan produktifitas.
·       Pemberian insentif produksi kedelai kepada petani dilakukan dengan cara (1) pemberian benih unggul kedelai dan pupuk gratis, dan (2) bantuan biaya pengolahan lahan.
·       Upaya pemanfaatan potensi lahan dilakukan dengan cara: (1) tumpang sari; (2) peningkatan intensitas tanam, biasanya petani memberakan lahan 1-3 bulan, waktu bera ini dapat dilakukan dengan menanam kedelai.; (3) penumbuhhan areal tanam baru dengan memanfaatkan lahan-lahan eks tambang dan lahan terlantar.
·       Peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan cara ; (1) penggunaan benih unggul melalui pengembangan (community based seed production) di pedesaan dan; (2) perbaikan teknik budidaya dengan kegiatan penyuluhan.
·       Diperlukan pengembangan komoditi substitusi kedelai, salah satunya adalah pengembangan kacang koro.
·       Penghapusan bea masuk saat ini tidak efektif dalam mengendalikan harga kedelai, dan hanya akan menguntungkan importer saja.
·       Perlunya pengawasan tataniaga impor, terutama tentang stok kedelai yang terdapat dipara importer.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar